‹ Semua renungan

Rabu, 18 September 2030

Gong yang Berkumandang

Kemarin Paulus menutup uraiannya tentang aneka karunia dengan sebuah janji: aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Hari ini jalan itu dibuka, dan ternyata jalan itu bernama kasih.

Paulus memulai dengan gambar bunyi. Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan segala bahasa manusia dan malaikat, tetapi tanpa kasih, aku hanya seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Bunyi gong memang nyaring, mengisi seluruh ruang. Tetapi begitu gemanya lenyap, tak ada apa-apa yang tertinggal. Ramai, tetapi kosong.

Begitulah segala kehebatan tanpa kasih. Pengetahuan yang luas, iman yang sanggup memindahkan gunung, bahkan kemurahan menyerahkan segala milik, semuanya menjadi bunyi kosong bila tak digerakkan oleh kasih. Yang tinggal hanyalah pertunjukan.

Lalu Paulus melukiskan wajah kasih itu, dan tak satu pun sifatnya yang megah. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak menyimpan kesalahan orang lain. Semuanya sederhana, dan justru karena itu berat dilakukan. Lebih mudah memindahkan gunung sekali daripada bersabar setiap hari.

Dalam Injil, Yesus menyindir orang-orang yang tak pernah puas. Yohanes Pembaptis dicap kerasukan, Anak Manusia dicap pelahap. Hati yang tak punya kasih memang selalu punya alasan untuk mencela.

Kalau semua kesibukan rohani kita hari ini ditimbang dengan takaran kasih ini, masih berbunyikah ia sebagai musik, atau sekadar gong yang nyaring lalu senyap?

Tuhan, penuhilah aku dengan kasih yang sabar dan murah hati, supaya hidupku bukan bunyi kosong, melainkan lagu yang memuliakan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →