Selasa, 17 September 2030
Jangan Menangis
Kemarin kita menyaksikan iman seorang perwira yang menyelamatkan hambanya. Hari ini Yesus berjumpa dengan penderitaan yang lebih berat, yang tak lagi bisa ditolong oleh permohonan siapa pun. Sebuah iring-iringan jenazah keluar dari gerbang kota Nain. Yang diusung adalah anak laki-laki, anak tunggal seorang janda.
Bayangkan perempuan itu. Suaminya sudah tiada, dan kini satu-satunya anak pun mati. Ia kehilangan bukan hanya orang yang dikasihi, tetapi juga penopang hidupnya di masa tua. Di zaman itu, janda tanpa anak laki-laki nyaris tak punya tempat berpegang.
Injil mencatat sesuatu yang indah. Tidak ada yang meminta kepada Yesus. Tidak ada perwira yang mengirim utusan, tidak ada sahabat yang memohon. Yesus sendiri yang melihat, dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia menghampiri perempuan itu dan berkata: jangan menangis.
Belas kasihan Tuhan sering mendahului permintaan kita. Ada kalanya kita terlalu remuk untuk berdoa, terlalu patah untuk meminta. Justru di titik itu Yesus datang lebih dulu, tergerak oleh air mata yang bahkan tak sanggup kita ucapkan.
Ia menyentuh usungan, dan yang mati bangkit. Lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Bukan sekadar menghidupkan, Ia memulihkan sebuah relasi yang putus.
Ketika hidup kita terlalu berat untuk dikeluhkan pun, percayakah kita bahwa Tuhan sudah lebih dulu melihat dan tergerak?
Tuhan Yesus, Engkau melihat air mata yang tak kuucapkan. Datanglah kepada kesedihanku, sentuhlah yang mati dalam diriku, dan katakanlah kepadaku: jangan menangis. Amin.