Minggu, 15 September 2030
Siapakah Aku Ini
Ada pertanyaan yang gampang dijawab dari luar, tetapi sulit dijawab dari dalam. Coba tanyakan pada orang: siapa Yesus? Mereka akan lancar menjawab dengan kutipan buku, pendapat orang lain, atau kesan umum. Tetapi begitu pertanyaannya berubah menjadi bagimu, siapakah Aku, semua jadi lain.
Itulah dua tahap pertanyaan Yesus di jalan menuju Kaisarea Filipi. Mula-mula Ia bertanya: kata orang, siapakah Aku ini? Murid-murid menjawab lancar. Ada yang bilang Elia, ada yang bilang nabi. Lalu Yesus mempersempit: tetapi menurut kamu, siapakah Aku? Di sini iman tidak bisa lagi menumpang pada pendapat orang. Ia harus menjadi milik pribadi.
Petrus menjawab tepat: Engkau adalah Mesias. Tetapi begitu Yesus menjelaskan bahwa Mesias itu harus menderita, ditolak, dan dibunuh, Petrus langsung menarik-Nya ke samping untuk menegur. Pengakuannya benar, tetapi bayangannya tentang Mesias masih penuh kemuliaan tanpa salib.
Kita pun sering begitu. Mengaku Yesus Tuhan, tetapi hanya menghendaki Tuhan yang mengabulkan, bukan Tuhan yang mengajak memikul salib. Maka jawaban Yesus keras: setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku.
Yesaya dalam Bacaan Pertama sudah melukiskan wajah Mesias yang demikian. Ia memberikan punggungnya kepada yang memukul, pipinya kepada yang mencabut janggutnya, tetapi tidak mendapat malu, sebab Tuhan menolongnya. Kekuatan yang tampak seperti kekalahan.
Yakobus lalu menurunkan iman ini ke bumi. Minggu lalu kita mendengar ia menegur sikap pilih-pilih terhadap si kaya dan si miskin. Hari ini ia melangkah lebih jauh: apa gunanya berkata beriman kalau saudara yang kekurangan makanan hanya kita lepas dengan ucapan selamat jalan, tanpa memberi apa pun? Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati.
Di sinilah ketiga bacaan bertemu. Yesaya melukiskan hamba yang menang justru dengan menyerahkan diri. Yesus menegaskan bahwa mengikut Dia berarti memikul salib. Dan Yakobus menuntut supaya iman itu tampak dalam pakaian dan makanan yang kita bagikan kepada yang kekurangan. Ketiganya menolak iman yang hanya berhenti di kepala. Mesias yang menderita hanya bisa diikuti oleh murid yang bersedia ikut menderita demi kasih.
Maka pertanyaan siapakah Aku bagimu tidak cukup dijawab dengan mulut. Ia dijawab dengan salib yang kita panggul dan tangan yang kita ulurkan.
Kalau hari ini Yesus bertanya langsung kepada kita, siapakah Aku ini bagimu, jawaban macam apa yang keluar bukan dari bibir, melainkan dari cara kita hidup?
Tuhan Yesus, aku mengaku Engkau Mesias. Tetapi jangan biarkan pengakuanku berhenti di mulut. Ajarilah aku mengikut Engkau sampai ke salib dan ke tangan yang melayani. Amin.