Sabtu, 14 September 2030
Kayu yang Meninggikan
Di leher banyak orang beriman tergantung sebuah salib kecil. Sudah begitu biasa sampai kita lupa betapa ganjilnya benda itu. Salib dulunya adalah alat hukuman paling hina, cara mematikan yang disediakan untuk penjahat dan pemberontak. Tak ada yang mau menyimpannya sebagai perhiasan.
Namun hari ini Gereja justru meninggikan salib dan menyebutnya suci. Sesuatu yang tadinya lambang kutukan berubah menjadi lambang keselamatan. Kayu yang dipakai untuk membunuh berubah menjadi kayu yang memberi hidup. Bagaimana bisa terjadi pembalikan sebesar ini?
Kuncinya ada pada satu kata yang dipakai Yesus: ditinggikan. Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian Anak Manusia harus ditinggikan. Bagi dunia, Ia digantung untuk dipermalukan. Tetapi di mata iman, saat itu justru Ia dinaikkan ke atas takhta-Nya yang sejati.
Sebab yang membuat salib menjadi mulia bukan kayunya, melainkan kasih yang tergantung di sana. Kasih yang tidak turun menyelamatkan diri, tetapi bertahan sampai habis demi menyelamatkan yang lain.
Di sinilah letak pelajaran bagi kita. Salib yang kita panggul, penderitaan yang kita terima demi kasih, kesulitan yang kita tanggung tanpa balas dendam, semua itu tidak sia-sia. Di tangan Tuhan, kayu yang paling berat pun bisa menjadi jalan peninggian.
Salib mana yang sedang kita panggul hari ini, yang barangkali justru sedang mengangkat kita lebih dekat kepada Tuhan?
Tuhan Yesus, ajarilah aku memandang salib bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai takhta kasih-Mu. Kuatkan aku memanggul salibku sendiri dengan setia. Amin.