‹ Semua renungan

Jumat, 13 September 2030

Balok di Mata Sendiri

Mata punya keanehan yang lucu. Ia sanggup melihat debu paling kecil di mata orang lain, tetapi buta sama sekali pada dirinya sendiri. Tak seorang pun bisa memandang matanya tanpa cermin. Alat penglihatan kita justru tidak bisa melihat dirinya.

Yesus memakai kelucuan ini untuk menyindir kita. Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kaurasakan? Bayangkan gambar itu. Sebatang balok menyembul dari mata, tetapi si empunya malah repot mengurus serpih kecil di mata orang lain.

Inilah penyakit yang paling gampang menjangkiti orang beragama. Mata kita jadi tajam sekali untuk dosa sesama, tetapi rabun total untuk dosa sendiri. Kita hafal daftar kesalahan tetangga, tetapi tak pernah membuka daftar kesalahan sendiri.

Yesus tidak melarang kita menolong saudara membersihkan matanya. Ia hanya menuntut urutan yang benar. Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, baru engkau bisa melihat dengan jelas untuk menolong. Koreksi yang lahir dari hati yang sudah jujur pada diri sendiri terasa beda. Ia menyembuhkan, bukan menghakimi.

Paulus dalam Bacaan Pertama pun bicara soal disiplin diri. Ia melatih tubuhnya sendiri, supaya jangan setelah memberitakan Injil kepada orang lain, ia sendiri malah ditolak. Ketegasan pertama-tama diarahkan ke dalam.

Hari ini, adakah balok di mata kita sendiri yang selama ini kita alihkan dengan sibuk menunjuk selumbar orang lain?

Tuhan, berilah aku cermin kejujuran. Bersihkan dulu mataku sendiri, supaya pandanganku pada sesama menjadi lembut dan menolong. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →