‹ Semua renungan

Kamis, 12 September 2030

Memandang yang Melukai

Orang yang pernah dipatuk ular tahu betapa mengerikannya bisa itu. Panas menjalar, tubuh melemah, maut terasa dekat. Maka aneh sekali obat yang diperintahkan Tuhan kepada Musa hari ini. Buatlah ular tembaga, taruh di sebuah tiang, dan siapa yang terpagut, jika ia memandang ular itu, akan tetap hidup.

Orang yang dipatuk justru disuruh menatap bentuk ular, hal yang paling ingin ia hindari. Ia harus memandang gambar dari apa yang melukainya, dan di situlah ia disembuhkan.

Yesus mengambil kisah tua ini dan membuka maknanya. Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. Salib adalah tiang itu. Yang kita pandang di sana adalah tubuh yang dirobek dosa, akibat kejahatan manusia yang paling ngeri. Namun justru dengan menatap salib itulah kita hidup.

Iman memang sering berarti berani memandang apa yang ingin kita palingkan. Bukan menutup mata dari luka, dosa, dan kematian, melainkan menatapnya di kayu salib, tempat semua itu sudah dikalahkan oleh kasih.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Allah mengutus Dia bukan untuk menghakimi, melainkan menyelamatkan.

Hari Salib Suci ini, adakah luka yang selama ini kita hindari untuk dipandang, padahal justru di sanalah Tuhan hendak menyembuhkan?

Tuhan, berilah aku keberanian menatap salib-Mu, dan di dalam luka-Mu menemukan kesembuhan bagi luka-lukaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →