‹ Semua renungan

Rabu, 11 September 2030

Bahagia yang Terbalik

Kemarin kita melihat Yesus turun dari bukit bersama dua belas rasul yang baru dipilih-Nya. Kini di tanah yang datar, di hadapan orang banyak, Ia mengajar. Dan yang keluar dari mulut-Nya membalik semua ukuran yang kita anggap wajar.

Berbahagialah kamu yang miskin. Berbahagialah kamu yang lapar. Berbahagialah kamu yang menangis. Lalu sebaliknya: celakalah kamu yang kaya, yang kenyang, yang tertawa. Kita menahan napas mendengarnya, sebab semua yang kita kejar mati-matian justru masuk daftar celaka.

Yesus tidak sedang memuja kemiskinan atau mengutuk tawa. Ia sedang menunjuk pada bahaya yang halus. Orang yang sudah kenyang cenderung merasa tidak butuh Tuhan. Orang yang tertawa dalam kelimpahan mudah lupa pada yang menangis di sebelahnya. Kemapanan bisa menumpulkan hati.

Sebaliknya, orang yang miskin dan lapar sering punya hati yang lebih terbuka pada Allah, sebab hanya kepada-Nya ia bisa berharap.

Paulus dalam Bacaan Pertama menegaskan nada yang sama. Waktu telah singkat. Yang membeli hendaklah seolah tidak memiliki, sebab dunia seperti yang kita kenal akan berlalu. Jangan sampai hati kita berlabuh pada yang fana.

Ini bukan ajakan membenci milik, melainkan ajakan menggenggam segalanya dengan tangan terbuka. Bahagia sejati tidak ditopang oleh isi lumbung, melainkan oleh kedekatan dengan Tuhan.

Kalau kekayaan dan tawa kita hari ini tiba-tiba lenyap, masihkah tersisa alasan untuk merasa berbahagia?

Tuhan, jangan biarkan kekenyangan membuat aku lupa pada-Mu. Tanamkan bahagia yang tidak bergantung pada isi tanganku, melainkan pada dekatnya Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →