‹ Semua renungan

Selasa, 10 September 2030

Semalaman di Bukit

Kemarin kita mendengar amarah para pengritik yang meluap setelah Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Mereka mulai berunding hendak berbuat apa terhadap Dia. Tekanan mengepung. Dan justru di ambang keputusan besar itulah Yesus melakukan sesuatu yang mudah kita lewatkan.

Ia pergi ke bukit, dan semalam-malaman berdoa kepada Allah. Bukan sebentar, bukan sambil lalu. Semalaman penuh. Baru keesokan harinya Ia memilih dua belas orang untuk menjadi rasul.

Menarik sekali urutannya. Sebelum memilih orang, Yesus lama tinggal bersama Bapa. Keputusan yang menentukan arah Gereja untuk selamanya tidak diambil dengan tergesa, melainkan lahir dari malam yang panjang bersama Allah.

Kita sering terbalik. Ketika ada keputusan besar, pindah kerja, memilih pasangan, menentukan masa depan anak, kita sibuk bertanya ke sana-sini, menghitung untung rugi, gelisah tak tidur. Doa justru jadi yang terakhir, kalau sempat, itu pun sekadar formalitas.

Padahal keputusan yang lahir dari doa punya akar yang lebih dalam. Bukan berarti bebas dari risiko. Lihat saja, di antara dua belas yang dipilih Yesus setelah semalaman berdoa, ada Yudas yang kelak mengkhianati. Doa tidak menjamin hasil mulus, tetapi memberi ketenangan bahwa kita berjalan bersama Tuhan, bukan sendiri.

Keputusan apa yang sedang menekan kita, yang belum sempat kita bawa dalam doa yang sungguh?

Tuhan, sebelum aku memilih dan memutuskan, ajarilah aku duduk dulu bersama-Mu. Biarlah keputusanku lahir dari doa, bukan dari kepanikan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →