Senin, 9 September 2030
Sedikit Ragi
Siapa pernah membuat tape atau adonan roti tahu betapa kecilnya ragi. Sejumput saja, hampir tak kelihatan, dimasukkan ke dalam adonan yang besar. Tetapi diamkan beberapa jam, dan seluruh adonan berubah. Yang sedikit itu menjalar ke mana-mana.
Paulus memakai gambar dapur ini hari ini. Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan. Ia sedang bicara tentang satu dosa yang dibiarkan di tengah jemaat, yang lama-lama merusak seluruh persekutuan. Bukan karena dosa itu besar, tetapi karena dibiarkan.
Begitulah kejahatan bekerja. Jarang datang sebagai gempa besar. Ia mulai dari yang kecil dan tersembunyi. Kebohongan kecil yang dianggap wajar. Dendam tipis yang dipelihara. Kebiasaan buruk yang dibela dengan kata cuma sekali. Lalu diam-diam ia menjalar dan mengubah warna seluruh hati.
Maka Paulus berkata: buanglah ragi yang lama, supaya kamu menjadi adonan yang baru. Sebab Kristus, anak domba Paskah kita, sudah disembelih. Hidup baru menuntut ragi yang baru pula, yakni kemurnian dan kebenaran.
Dalam Injil, Yesus menyembuhkan tangan yang mati pada hari Sabat, sementara para pengritik-Nya justru sibuk mencari-cari kesalahan. Hati yang penuh ragi kebencian sampai buta pada mukjizat di depan mata.
Adakah ragi kecil dalam hidup kita yang selama ini kita biarkan, dengan alasan toh cuma sedikit?
Tuhan, tunjukkanlah kepadaku ragi lama yang diam-diam merusak hatiku, dan berilah aku keberanian untuk membuangnya hari ini. Amin.