‹ Semua renungan

Minggu, 8 September 2030

Efata, Terbukalah

Ada penderitaan yang tampak, dan ada yang tersembunyi. Orang tuli menanggung yang tersembunyi. Dari luar ia tampak sehat, tetapi ia hidup di balik dinding sunyi. Ia melihat mulut orang bergerak, melihat tawa dan sapaan, tetapi tidak sampai satu suara pun kepadanya. Dunia berjalan tanpa dia diajak bicara.

Injil hari ini mengisahkan seorang yang tuli dan gagap dibawa kepada Yesus. Yang menarik, Yesus tidak menyembuhkannya dari kejauhan dengan satu sabda. Ia memisahkan orang itu dari keramaian, menaruh jari ke telinganya, menyentuh lidahnya, lalu menengadah ke langit dan berkata: Efata, artinya terbukalah.

Perhatikan betapa pribadinya perlakuan itu. Yesus tidak mengobati kerumunan, Ia mengobati satu orang, dengan sentuhan yang khusus untuk dia seorang. Bagi Tuhan, penderitaan bukan angka. Ia mendekat, menyendirikan, dan menyentuh.

Yesaya sudah menubuatkan hari semacam ini. Telinga orang tuli akan dibuka, mulut orang bisu akan bersorak-sorai, mata air memancar di padang gurun. Kedatangan Allah selalu berarti yang tertutup dibuka dan yang kering dialiri.

Tetapi Yakobus dalam Bacaan Kedua memperingatkan satu ketulian yang lain, yang lebih berbahaya justru karena telinga kita sehat. Minggu lalu kita mendengar peringatannya agar iman tidak diamalkan dengan memandang muka. Hari ini ia melanjutkan: jangan menghormati orang berpakaian indah dan mengabaikan si miskin berpakaian buruk. Bukankah Allah memilih yang miskin di mata dunia untuk menjadi kaya dalam iman?

Itulah ketulian yang halus. Kita bisa mendengar suara orang berpangkat dengan jelas, tetapi budek pada rintihan orang kecil di dekat kita. Telinga sempurna, tetapi hati tertutup.

Maka Efata bukan hanya doa bagi telinga jasmani. Ia doa bagi hati yang mengeras, bagi mata yang pilih-pilih memandang, bagi tangan yang enggan terulur kepada yang lemah.

Menarik pula bahwa Yesus lebih dulu menengadah ke langit sebelum berkata terbukalah. Kesembuhan itu bukan sulap, melainkan pemberian dari atas, seperti kata Yakobus bahwa setiap anugerah yang sempurna turun dari Bapa segala terang. Kita tidak bisa membuka telinga hati kita sendiri dengan tenaga sendiri. Kita hanya bisa membawanya kepada Yesus, membiarkan Dia menyentuh, dan memohon supaya yang tertutup dibuka.

Hari ini, suara siapa yang paling sering kita tulikan? Dan bagian mana dari diri kita yang perlu mendengar Yesus berkata: terbukalah?

Tuhan Yesus, sentuhlah telinga hatiku yang tertutup. Ucapkanlah Efata atasku, supaya aku mendengar suara-Mu dalam rintihan sesamaku yang kecil. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →