Kamis, 5 September 2030
Bertolak ke Tempat Dalam
Nelayan yang pulang dengan jala kosong punya wajah yang khas. Lelah, kecewa, ingin cepat pulang tidur. Semalaman bekerja, tangan luka oleh tali, dan hasilnya tidak ada. Persis begitu keadaan Simon pagi itu di tepi Danau Genesaret.
Lalu Yesus menyuruh sesuatu yang seolah melawan akal. Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu. Simon nelayan, Yesus tukang kayu. Wajar kalau ada bantahan halus dalam hatinya. Kami sudah mencoba semalam suntuk dan gagal.
Tetapi Simon menambahkan satu kalimat yang mengubah segalanya. Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Ia menaruh yang paling ia kuasai, keahliannya sebagai nelayan, di bawah kata Tuhan. Dan jala itu penuh sampai hampir koyak.
Kita gampang berhenti pada kalimat pertama Simon: sudah bekerja keras, tidak dapat apa-apa. Di titik lelah itulah biasanya kita menyerah. Padahal justru di sana Tuhan mengajak kita bertolak lebih dalam, ke tempat yang belum kita coba dengan cara-Nya.
Melihat tangkapan itu, Simon tidak menyombong. Ia malah tersungkur: Tuhan, aku ini orang berdosa. Perjumpaan dengan kuasa Tuhan selalu membuat kita jujur akan diri sendiri.
Adakah bagian hidup kita yang sudah kita nyatakan gagal, padahal Tuhan belum menyuruh berhenti?
Tuhan, ketika jalaku kosong dan aku ingin menyerah, beri aku keberanian untuk menebarkannya sekali lagi atas kata-Mu. Amin.