‹ Semua renungan

Senin, 2 September 2030

Anak Tukang Kayu

Ada satu kesulitan yang hanya dialami orang yang pulang ke kampung halaman. Di sana semua orang sudah kenal kita sejak masih ingusan. Mereka ingat kita pernah jatuh dari pohon, pernah ngompol di kelas, pernah dijewer guru. Susah sekali dianggap sudah besar di tempat orang menyaksikan kita kecil.

Yesus mengalaminya persis. Ia pulang ke Nazaret, membaca nubuat Yesaya, lalu berkata bahwa hari ini nas itu digenapi. Mula-mula orang kagum akan kata-kata-Nya. Tetapi kekaguman itu cepat berubah. Bukankah Ia ini anak Yusuf? Anak tukang kayu yang kita kenal itu, kok tiba-tiba bicara seperti nabi?

Yang mengganjal mereka bukan ajaran-Nya, melainkan asal-usul-Nya. Mereka terlalu hafal masa lalu-Nya sampai buta pada rahmat yang berdiri di depan mata. Sampai-sampai mereka mau melempar Dia dari tebing.

Paulus dalam Bacaan Pertama justru bangga dengan yang biasa. Ia datang tanpa kata-kata indah, tanpa hikmat yang memukau, hanya memberitakan Yesus yang tersalib. Supaya iman jangan bergantung pada kepandaian manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Kita pun kerap begitu. Menganggap Tuhan hanya bisa bekerja lewat yang hebat, yang jauh, yang asing. Padahal sering Ia datang lewat yang paling akrab dan paling sederhana.

Adakah rahmat yang kita remehkan hari ini hanya karena datang dari tempat yang terlalu kita kenal?

Tuhan, jangan biarkan aku menolak-Mu karena Engkau datang lewat yang biasa. Bukalah mataku pada rahmat yang berdiri dekat. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →