‹ Semua renungan

Minggu, 1 September 2030

Cuci Tangan yang Lain

Setiap ibu di dapur tahu urutan yang tak pernah ditawar. Cuci tangan dulu, baru pegang bahan makanan. Air mengalir, sabun, gosok sela jari. Ada kebersihan yang memang menyelamatkan, dan untuk itu kita bersyukur.

Tetapi Injil hari ini bicara soal cuci tangan yang lain. Orang Farisi menegur murid-murid Yesus karena makan tanpa membasuh tangan menurut adat nenek moyang. Yang mereka persoalkan bukan kuman, melainkan aturan. Yesus menjawab dengan kalimat yang menusuk: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

Rupanya tangan bisa bersih sementara hati kotor. Yesus membalik arah perhatian. Bukan yang masuk dari luar yang menajiskan seseorang, tetapi yang keluar dari dalam. Dari hati timbul iri, dengki, kesombongan, kebebalan. Tak ada sabun yang bisa menjangkau ke sana.

Musa dalam Bacaan Pertama sudah mengingatkan hal serupa. Hukum Tuhan bukan sekadar pagar peraturan. Ia diberikan supaya bangsa manakah pun akan berkata: sungguh, tidak ada allah yang sedekat ini. Hukum adalah tanda kedekatan, bukan alat untuk memandang rendah sesama. Begitu ia dipakai untuk merasa lebih suci daripada orang lain, ia sudah dibelokkan dari maksud aslinya. Musa bahkan berpesan agar hukum itu jangan ditambahi atau dikurangi, sebab manusia gampang menyelundupkan aturan buatannya sendiri lalu menyebutnya kehendak Allah.

Yakobus lalu menutup lingkaran ini. Ibadah yang murni di hadapan Allah bukan tentang cawan dan kendi yang berkilat, melainkan mengunjungi yatim dan janda dalam kesusahan mereka. Jadilah pelaku firman, bukan hanya pendengar. Iman yang benar selalu turun ke tangan.

Kalau ketiga bacaan ini dirangkai, tampak sebuah jalan yang jelas. Dari bibir yang memuji, turun ke hati yang dibasuh, lalu keluar lewat tangan yang melayani. Bila jalan itu putus di tengah, ibadah kita berhenti menjadi pertunjukan. Bibir sibuk berkata benar, hati dibiarkan jauh, dan tangan tak pernah bergerak menolong. Hukum Tuhan, yang tadinya tanda kedekatan, malah berubah menjadi topeng yang rapi.

Maka bahayanya jelas. Kita bisa rajin ke gereja, hafal doa, tertib aturan, tetapi menyimpan hati yang tak pernah dibasuh. Bibir memuji, hati menghitung. Tangan bersih, batin berkarat.

Hari ini baik kita bertanya jujur. Bagian mana dari diriku yang selama ini kubersihkan hanya di permukaan, sementara akarnya kubiarkan?

Tuhan, Engkau tidak tertipu oleh yang tampak bersih. Basuhlah hatiku sampai ke dalam, dan ubahlah bibir yang memuji menjadi tangan yang melayani. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →