Rabu, 28 Agustus 2030
Hati yang Gelisah
Ada kalimat Santo Agustinus yang mungkin paling sering dikutip sepanjang sejarah Gereja. 'Engkau menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.' Kalimat itu lahir dari pengalaman, bukan teori. Agustinus muda mengejar kepandaian, kenikmatan, dan nama besar, dan semuanya tetap meninggalkan lubang yang tidak terisi.
Injil hari ini menyentuh persis luka itu. Yesus berkata para ahli Taurat seperti kuburan yang dilabur putih, indah di luar, penuh tulang belulang di dalam. Cat putih tidak mengubah isi kubur, ia hanya menutupinya. Betapa banyak dari kita hidup begitu: mengecat luar supaya tampak beres, sementara di dalam gelisah dan kosong.
Kemarin kita mendengar tentang cawan yang harus dibersihkan dari dalam. Hari ini gambarnya makin tajam menjadi kuburan yang dilabur. Pesannya satu: Allah tidak bisa dibohongi oleh lapisan cat.
Agustinus akhirnya berhenti mengecat. Ia membiarkan Tuhan membongkar isi kuburnya, mengaku dosa dengan jujur, dan menemukan bahwa istirahat yang ia cari selama ini bukan pada pencapaian, melainkan pada Tuhan sendiri. Dari orang yang gelisah, ia menjadi salah satu guru terbesar Gereja.
Di sudut mana hatiku masih gelisah hari ini, karena aku mencari istirahat pada tempat yang salah?
Tuhan, Engkau menciptakan aku bagi diri-Mu. Hentikan aku dari mengecat luar, dan bawa hatiku yang gelisah beristirahat dalam Engkau. Amin.