Senin, 26 Agustus 2030
Menutup Pintu di Depan Orang
Ada satu dosa yang mudah dilupakan karena tidak kelihatan seperti dosa. Bukan mencuri, bukan membunuh, melainkan menghalangi orang lain mendekat kepada Tuhan. Yesus menyebutnya dengan keras, 'Celakalah kamu, sebab kamu menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. Kamu sendiri tidak masuk, dan orang yang berusaha masuk kamu rintangi.'
Kata yang berulang di seluruh bab ini adalah munafik. Dalam bahasa Yunani, hypokrites, artinya pemain sandiwara, orang yang memakai topeng di panggung. Orang munafik bukan orang yang jahat terang-terangan, melainkan orang yang memerankan kesalehan sementara hatinya kosong. Ia sibuk mengurus wajah luar sampai lupa isi.
Yang berbahaya, kesalehan palsu semacam ini menular. Orang yang haus pada Tuhan bisa mundur karena melihat para petugas agama hanya sibuk dengan aturan dan gengsi. Betapa banyak orang menjauh dari Gereja bukan karena Injil, melainkan karena tersandung oleh orang beriman yang bermuka dua.
Ini pemeriksaan batin yang tidak enak. Jangan-jangan kita, tanpa sadar, ikut menutup pintu bagi orang lain. Lewat sikap menghakimi. Lewat lidah yang cepat menilai siapa pantas dan siapa tidak.
Paulus justru memuji jemaat Tesalonika karena iman dan kasih mereka bertumbuh di tengah penganiayaan. Iman yang benar membuka pintu, bukan menutupnya.
Apakah cara hidupku hari ini membuka atau malah menutup pintu bagi orang yang sedang mencari Tuhan?
Tuhan, lepaskan aku dari topeng kesalehan. Jadikan hidupku pintu yang terbuka bagi orang yang mendekat kepada-Mu. Amin.