Minggu, 25 Agustus 2030
Kepada Siapa Kami Akan Pergi?
Setiap hidup akhirnya sampai di persimpangan. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Dan di setiap persimpangan, kita harus memilih arah, sebab berdiri diam di tengah jalan bukan pilihan yang bisa bertahan lama.
Yosua menaruh persimpangan itu di depan seluruh bangsa. Sesudah mengingatkan segala yang telah Tuhan lakukan, ia berkata terus terang, 'Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.' Lalu ia menyatakan pilihannya sendiri dengan kalimat yang sampai hari ini masih dipahat di banyak rumah, 'Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.'
Perhatikan, Yosua tidak memaksa. Ia memilih lebih dulu, lalu mengajak. Iman memang tidak bisa diwariskan seperti tanah pusaka. Ia harus dipilih ulang oleh setiap orang, bahkan oleh setiap generasi dalam satu rumah.
Injil hari ini membawa persimpangan yang lebih tajam. Sesudah Yesus mengajar tentang roti hidup, banyak murid-Nya mundur. 'Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?' Mereka pergi. Bukan orang jauh, melainkan murid-murid sendiri. Dan Yesus tidak mengejar mereka. Ia malah berbalik kepada kedua belas murid dan bertanya, 'Apakah kamu tidak mau pergi juga?'
Pertanyaan itu sepi sekali. Yesus rela ditinggalkan daripada menurunkan kebenaran-Nya supaya lebih enak didengar. Ia tidak menawar. Dan di tengah kesunyian itu, Petrus menjawab dengan salah satu pengakuan iman terindah dalam Injil, 'Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.'
Petrus tidak berkata bahwa ia mengerti semuanya. Ia jujur bahwa perkataan itu memang keras. Tetapi ia sudah menimbang: pergi ke mana lagi? Semua jalan lain buntu. Hanya pada Yesus ada hidup. Kadang iman bukan karena kita punya semua jawaban, melainkan karena kita sadar tidak ada tempat lain yang lebih benar untuk dituju.
Paulus dalam bacaan kedua menaruh persimpangan itu di dalam rumah tangga. Suami dan istri diminta saling merendahkan diri dalam takut akan Kristus, saling mengasihi seperti Kristus mengasihi jemaat. Memilih Tuhan tidak berhenti di gereja. Ia diuji di meja makan, dalam cara suami istri memperlakukan satu sama lain hari demi hari.
Orang Jawa berkata, wong urip iku milih. Orang hidup itu memilih. Tidak memilih pun sebenarnya sebuah pilihan, yaitu membiarkan arus membawa kita entah ke mana.
Hari ini, di persimpangan kita masing-masing, kepada siapa sebenarnya kita hendak pergi?
Tuhan Yesus, kata-kata-Mu sering terasa keras bagiku. Tetapi kepada siapa lagi aku akan pergi? Hanya pada-Mu ada hidup yang kekal. Amin.