Sabtu, 24 Agustus 2030
Tanpa Kepalsuan
Yesus memberi Natanael pujian yang jarang. 'Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.' Di zaman yang penuh basa-basi, pujian itu terasa langka. Orang yang isi hatinya sama dengan yang di mulutnya.
Menariknya, sesaat sebelumnya Natanael baru saja berkata sinis, 'Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?' Ucapan itu tidak sopan, tetapi jujur. Ia mengatakan persis apa yang ada di kepalanya, tanpa dibungkus manis. Dan justru kejujuran blak-blakan itu, bukan kesalehan yang dibuat-buat, yang membuat Yesus menyebutnya Israel sejati.
Gereja mengenang rasul ini dengan nama Bartolomeus. Ia bukan rasul yang paling banyak dicatat kata-katanya, tetapi dikenang sebagai orang yang lurus, yang begitu bertemu kebenaran langsung mengakuinya, 'Rabi, Engkau Anak Allah.'
Kita hidup di dunia yang mahir berpura-pura. Wajah ramah menutupi hati yang dingin. Kata setuju menutupi ketidaksetujuan. Lama-lama kita bisa lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan. Padahal Allah tidak pernah tertipu oleh topeng. Ia lebih menyukai orang berdosa yang jujur daripada orang saleh yang berpura-pura.
Wahyu melukiskan kota kudus dengan dua belas dasar bertuliskan nama para rasul. Dasar kota Allah bukan orang-orang sempurna, melainkan orang-orang jujur yang mau dibentuk.
Adakah kepalsuan kecil yang kupelihara hari ini, yang perlu kutanggalkan di hadapan Tuhan?
Tuhan, jadikan aku orang tanpa kepalsuan, yang berani jujur di hadapan-Mu dan sesama. Amin.