Jumat, 23 Agustus 2030
Tulang-tulang yang Kering
Ada saat ketika sesuatu dalam hidup terasa benar-benar mati. Semangat yang dulu menyala kini padam. Doa terasa hambar. Hubungan yang dulu hangat kini seperti tulang kering di lembah. Kita berkata seperti Israel, 'Pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.'
Yehezkiel dibawa ke lembah penuh tulang kering. Tuhan bertanya, 'Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?' Pertanyaan yang mustahil. Nabi hanya bisa menjawab, 'Ya Tuhan, Engkaulah yang mengetahui.' Ia tidak berpura-pura punya jawaban; ia menyerahkannya kepada Dia yang tahu.
Lalu terjadilah. Tulang bertemu tulang, urat tumbuh, daging menutupi, dan napas hidup masuk. Yang paling kering di seluruh lembah pun bisa berdiri sebagai tentara yang besar, asal napas Allah berembus ke dalamnya.
Kita gampang menyerah pada yang tampak sudah mati. Menyerah pada anak yang membangkang, pada pernikahan yang dingin, pada iman kita sendiri yang layu. Yehezkiel mengingatkan, kekeringan bukan kata terakhir selama Allah masih berkenan meniupkan Roh-Nya.
Dan apa yang menghidupkan tulang kering hati manusia? Injil hari ini menjawab: kasihilah Tuhan dengan segenap hati, dan kasihilah sesama seperti diri sendiri. Kasih adalah napas yang membuat tulang kering berdiri lagi. Tanpa kasih, kita hanya kerangka rapi yang tidak hidup.
Bagian mana dari hidupku yang sudah kuanggap tulang kering, padahal Roh masih bisa menghidupkannya?
Tuhan, embuskan Roh-Mu ke atas yang telah mati dalam diriku. Hidupkan kembali dengan kasih yang dari-Mu. Amin.