Rabu, 21 Agustus 2030
Upah yang Sama
Bayangkan Anda bekerja sejak subuh, memikul panas seharian, lalu menerima upah yang sama persis dengan orang yang baru datang pukul lima sore. Wajar kalau ada yang bersungut. Hitungan itu masuk akal di telinga kita.
Kemarin kita mendengar kalimat Yesus, bahwa yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Hari ini Ia memberi ceritanya. Tuan kebun anggur menjawab yang bersungut dengan tenang, 'Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?' Yang membuat pekerja pagi kecewa ternyata bukan kekurangan upah mereka, melainkan kemurahan sang tuan kepada orang lain.
Di sinilah perumpamaan ini menyentil kita. Kita gampang iri melihat kebaikan Tuhan kepada orang lain. Melihat orang yang bertobat di ujung hidupnya diterima sama seperti kita yang sudah lama setia. Hati kita yang menghitung berbisik, 'Kalau begitu, apa gunanya aku setia sejak pagi?'
Gunanya besar. Pekerja pagi menikmati seharian bersama tuannya, sementara yang lain menganggur cemas di pasar. Setia sejak subuh bukan beban, melainkan berkat. Yang keliru hanyalah ketika kesetiaan berubah menjadi merasa berhak.
Santo Pius X, yang kita rayakan hari ini, membuka meja Tuhan bahkan bagi anak-anak kecil, supaya tidak ada yang merasa terlalu tak layak untuk diberi.
Pernahkah aku iri melihat Tuhan begitu murah hati kepada orang yang menurutku kurang pantas?
Tuhan, ampuni hatiku yang suka menghitung. Ajari aku bersukacita ketika Engkau murah hati kepada orang lain. Amin.