Kamis, 15 Agustus 2030
Nyanyian yang Ikut Naik
Setiap ibu punya lagu. Entah senandung menidurkan bayi, entah gumaman kecil saat menanak nasi. Lagu itu biasa saja, tidak ada yang mencatatnya. Tetapi bagi anak yang mendengarnya, lagu itu adalah suara rumah.
Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Dan bacaan Injilnya bukan kisah kematian atau pemakaman, melainkan sebuah nyanyian. Magnificat. 'Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.' Nama lagu itu diambil dari kata pertamanya dalam bahasa Latin, magnificat, artinya 'ia memuliakan'. Lagu seorang gadis desa yang sedang mengandung, dinyanyikan di depan saudaranya di pegunungan Yehuda.
Menarik bahwa Gereja memilih nyanyian untuk merayakan Maria diangkat ke surga. Seolah hendak berkata: yang naik ke surga bukan hanya tubuh Maria, tetapi juga nyanyiannya. Dan isi nyanyian itu bukan tentang dirinya. Ia bernyanyi tentang Allah yang menurunkan orang berkuasa dari takhta dan meninggikan orang yang rendah, yang mengenyangkan orang lapar dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa. Magnificat adalah lagu yang membalik dunia.
Inilah yang sering terlewat dari kita. Kita mengira Maria diangkat ke surga karena ia istimewa dan jauh dari kita. Padahal Magnificat justru meletakkannya di pihak orang-orang kecil. Ia ditinggikan bukan karena berkuasa, melainkan karena rendah hati. 'Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.' Pengangkatan Maria adalah janji yang dibunyikan lebih dahulu, bahwa Allah memang meninggikan yang rendah.
Paulus menaruh alasnya dalam bacaan kedua. Kristus dibangkitkan sebagai buah sulung, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya. Maut, musuh yang terakhir, ditaklukkan. Maria adalah tanda pertama bahwa penaklukan itu sungguh terjadi. Apa yang dijanjikan bagi kita semua sudah tampak penuh dalam dirinya.
Wahyu melengkapi gambar itu di langit. Perempuan berselubungkan matahari, melahirkan di depan naga, tetapi tidak ditelan. Kerapuhan yang dijaga Allah selalu lebih kuat daripada kuasa yang mengancamnya.
Maka pesta hari ini bukan tentang jarak, melainkan tentang harapan. Tubuh manusia, tubuh yang kita bawa ini, yang capek dan menua dan sakit, ternyata punya masa depan di surga. Bukan dibuang, melainkan dimuliakan. Maria sudah sampai. Kita masih berjalan, tetapi ke arah yang sama.
Kalau begitu, lagu apa yang keluar dari mulut kita ketika hidup terasa berat? Keluhan, atau Magnificat?
Bunda Maria, engkau yang menyanyi di tengah dunia yang keras dan kini bernyanyi di surga, ajari kami lagu itu, supaya jiwa kami pun memuliakan Tuhan. Amin.