Sabtu, 10 Agustus 2030
Inilah Harta Gereja
Ada cerita tua tentang Santo Laurensius, diakon yang mengurus harta jemaat di Roma. Ketika penguasa menuntut ia menyerahkan kekayaan Gereja, Laurensius minta waktu tiga hari. Ia lalu mengumpulkan orang miskin, cacat, dan janda-janda kota, membariskan mereka di depan penguasa, dan berkata, 'Inilah harta Gereja.' Ia dihukum mati karena jawaban itu.
Hari ini kita mendengar kata Paulus: Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Injil menaruh hukum benih di sampingnya: biji yang mati menghasilkan banyak buah. Laurensius adalah kedua bacaan itu menjadi daging. Ia memberi sampai habis, mati seperti biji, dan namanya berbuah sampai enam belas abad kemudian.
Yang menarik, Laurensius tidak menganggap orang miskin sebagai beban yang ditolong Gereja. Ia menyebut mereka harta. Kata itu mengubah segalanya. Selama kita memandang orang kecil sebagai daftar pengeluaran, kita akan memberi dengan wajah masam. Begitu kita memandang mereka sebagai kekayaan, memberi berubah menjadi sukacita. Yang berubah bukan jumlah yang kita beri, melainkan hati yang memberinya.
Di rumah dan lingkungan kita, siapakah yang selama ini kita hitung sebagai beban, padahal sesungguhnya harta?
Tuhan, ubahlah cara pandangku. Ajari aku menyebut orang-orang kecil di sekitarku sebagai harta, dan memberi dengan hati yang gembira. Amin.