Minggu, 11 Agustus 2030
Bangunlah, Makanlah
Ada satu jenis lelah yang tidak bisa disembuhkan oleh tidur semalam. Lelah yang membuat orang berkata, 'Cukup sudah. Aku tidak sanggup lagi.' Bukan lelah otot, melainkan lelah jiwa. Siapa pun yang pernah sampai di titik itu tahu betapa gelapnya.
Nabi Elia sampai di titik itu. Baru saja ia menang besar melawan nabi-nabi Baal, dan kini ia lari ketakutan, duduk di bawah pohon arar di padang gurun, dan minta mati. 'Cukuplah itu, ya Tuhan, ambillah nyawaku.' Nabi besar itu ingin menyerah pada hidup.
Perhatikan apa yang Tuhan lakukan. Ia tidak mengirim teguran. Tidak ada khotbah tentang kurang iman. Seorang malaikat hanya menyentuhnya dan berkata, 'Bangunlah, makanlah.' Ada roti bakar dan sekendi air. Elia makan, tidur lagi, lalu disentuh untuk kedua kalinya. 'Bangunlah, makanlah, sebab kalau tidak, perjalananmu terlalu jauh bagimu.'
Betapa lembutnya Tuhan menangani orang yang patah. Ia tahu kadang yang kita butuhkan bukan nasihat rohani yang tinggi, melainkan makan, tidur, dan kekuatan untuk satu langkah berikutnya. Oleh kekuatan makanan itu, Elia berjalan empat puluh hari sampai ke gunung Allah.
Minggu lalu kita mendengar Yesus berkata, 'Akulah roti hidup.' Hari ini Ia melanjutkannya, dan orang Yahudi bersungut-sungut. 'Bukankah Ia ini anak Yusuf? Bagaimana Ia bisa berkata turun dari surga?' Mereka mengenal alamat-Nya, maka tidak sanggup melihat asal-Nya.
Tetapi Yesus tidak menarik kata-Nya. 'Nenek moyangmu makan manna dan mereka mati. Inilah roti yang turun dari surga: barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.' Roti Elia menguatkan untuk empat puluh hari. Roti ini menguatkan untuk kehidupan yang tak berkesudahan.
Roti itu adalah Ekaristi. Ketika jiwa kita seperti Elia di bawah pohon arar, Gereja tidak pertama-tama menyodorkan ceramah, melainkan sepotong Roti. Bangunlah, makanlah. Perjalananmu masih jauh. Betapa sering kita datang ke misa dengan langkah selelah Elia, dan pulang dengan kaki yang sedikit lebih ringan, bukan karena masalah kita selesai, melainkan karena kita sudah diberi makan untuk satu etape berikutnya.
Paulus menambahkan pesan praktis. Buanglah kepahitan, kegeraman, dan fitnah. Jadilah ramah dan saling mengampuni. Sebab orang yang sudah dikuatkan oleh Roti yang benar semestinya berhenti menyimpan racun terhadap sesama.
Adakah di antara kita yang hari ini sedang duduk di bawah pohon araranya sendiri? Suara itu masih sama lembutnya: bangunlah, makanlah.
Tuhan Yesus, Roti hidup, sentuhlah aku ketika aku lelah dan ingin menyerah. Bangunkan aku, kenyangkan aku, dan kuatkan langkahku yang berikutnya. Amin.