Jumat, 9 Agustus 2030
Kota Penumpah Darah
Nahum melukiskan sebuah kota dengan kata-kata yang mengerikan. Lecut cambuk, derak roda, kuda menderap, mayat bertimbun. Niniwe, ibu kota yang kuat, yang menakuti bangsa-bangsa. 'Celakalah kota penumpah darah itu,' serunya. Dan kota yang tampak tak terkalahkan itu akan runtuh sampai tidak ada yang meratapinya.
Kekuatan yang dibangun di atas kekerasan selalu punya tanggal kedaluwarsa. Kerajaan yang menindas terlihat abadi dari dekat, tetapi rapuh dari jauh. Cepat atau lambat, yang menabur pedang menuai pedang.
Di seberang gambar Niniwe, Yesus menaruh gambar yang lain sama sekali. 'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku.' Bukan menaklukkan, melainkan menyerahkan. Bukan mengumpulkan nyawa, melainkan kehilangan nyawa demi Dia.
Dua jalan dibentangkan. Jalan Niniwe, yang mengambil dengan pedang lalu runtuh. Dan jalan Salib, yang memberi dengan kasih lalu bangkit. 'Apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?'
Niniwe punya segalanya kecuali yang menyelamatkan. Salib tampak kehilangan segalanya, tetapi di situ hidup ditemukan. Kekuatan macam apa yang diam-diam kita kagumi dan kejar hari ini?
Tuhan, jauhkan aku dari cita-cita Niniwe. Ajari aku kekuatan Salib-Mu yang memberi, bukan yang menindas. Amin.