‹ Semua renungan

Selasa, 6 Agustus 2030

Sebentar di Puncak

Siapa yang pernah mendaki gunung tahu rasanya sampai di puncak sebelum matahari terbit. Dingin menusuk, napas tersengal. Lalu cahaya pertama pecah di ufuk, dan semua lelah terasa terbayar. Kita ingin berhenti di situ, selamanya kalau bisa.

Petrus merasakan itu. Wajah Yesus berubah rupa, bercahaya seperti matahari. Kata Yunani untuk 'berubah rupa' di sini metamorphosis, perubahan dari dalam. Bukan riasan yang ditempel, melainkan kemuliaan yang selama ini tersembunyi di balik daging, sesaat menembus keluar.

Petrus ingin mendirikan tiga kemah, membekukan momen itu. Manusiawi sekali. Kita semua punya puncak rohani yang ingin diawetkan: retret yang mengharukan, doa yang terasa dekat sekali dengan Tuhan.

Tetapi awan datang dan suara terdengar, 'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.' Sesudah itu mereka harus turun, ke lembah, ke salib yang menunggu. Puncak bukan tempat tinggal. Puncak adalah bekal untuk perjalanan turun.

Daniel jauh sebelumnya sudah melihat Yang Lanjut Usianya bertakhta dalam nyala. Di gunung itu, penglihatan Daniel menjadi wajah yang bisa disentuh.

Adakah momen terang yang pernah kualami, yang seharusnya menguatkan aku untuk turun, bukan untuk berhenti?

Tuhan, ketika Kaubukakan sedikit kemuliaan-Mu, kuatkan aku untuk turun kembali ke tugasku dengan wajah yang lebih terang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →