Senin, 5 Agustus 2030
Nubuat yang Terlalu Manis
Di pasar, penjual yang paling laris sering bukan yang paling jujur, melainkan yang paling pandai menjanjikan. 'Dijamin awet, Bu. Dijamin murah.' Telinga kita memang condong ke yang manis.
Nabi Hananya menjanjikan yang manis. Dalam dua tahun, katanya, kuk Babel akan patah dan semua yang terbuang akan pulang. Ia bahkan mematahkan gandar dari tengkuk Yeremia untuk memperagakan nubuatnya. Siapa yang tidak mau kabar baik yang cepat?
Yeremia menjawab dengan 'Amin' yang getir. Ia sendiri ingin nubuat itu benar. Tetapi ia tahu, tidak semua yang manis itu benar. Nabi sejati diuji ketika nubuatnya tergenapi, bukan ketika terdengar enak.
Kita hidup di zaman yang penuh Hananya. Suara yang menjanjikan jalan pintas, kekayaan tanpa kerja, kesembuhan tanpa salib. Bandingkan dengan Yesus hari ini. Ia tidak menjanjikan yang muluk. Ia hanya mengambil lima roti dan dua ikan yang nyata, menengadah ke langit, dan mencukupkan lima ribu orang. Mukjizat sejati lahir dari yang kecil yang diserahkan dengan jujur, bukan dari janji besar.
Manakah yang lebih kita percaya, suara yang manis atau suara yang benar?
Tuhan, jagai telingaku dari nubuat palsu yang menyenangkan. Beri aku keberanian mencintai yang benar walau pahit. Amin.