Minggu, 4 Agustus 2030
Apakah Ini?
Di padang gurun, pagi hari, umat Israel menemukan sesuatu yang halus seperti embun beku di tanah. Mereka tidak tahu itu apa. Maka mereka bertanya satu sama lain, 'Apakah ini?' Dalam bahasa mereka, pertanyaan itu berbunyi man hu. Dan dari pertanyaan yang bingung itulah lahir nama makanan itu: manna. Roti dari surga namanya diambil dari sebuah tanda tanya.
Menarik, bukan? Pemberian Allah yang paling ajaib pun mula-mula datang sebagai teka-teki, bukan sebagai sesuatu yang langsung kita mengerti. Israel harus memungutnya tiap pagi, secukupnya untuk sehari, tidak boleh ditimbun. Setiap hari mereka dilatih percaya bahwa besok pun akan ada lagi.
Kita tidak suka cara itu. Kita lebih suka lumbung penuh, stok aman, tabungan yang membuat kita tidak perlu berdoa 'berilah kami rezeki pada hari ini'. Manna mengajarkan iman yang harian, iman yang tidak bisa distok.
Dalam Injil, orang banyak mencari Yesus setelah kenyang oleh lima roti. Mereka suka mukjizat yang mengenyangkan perut. Tetapi Yesus menggeser keinginan mereka. 'Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai hidup kekal.' Lalu Ia berkata terus terang, 'Akulah roti hidup.'
Israel bertanya 'apakah ini?' di padang gurun. Di Kapernaum, jawaban atas pertanyaan itu berdiri di depan mereka sebagai seorang pribadi. Manna hanya menunjuk. Yesus menggenapi.
Paulus menambahkan gambar ketiga. Ia bicara tentang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Roti mengganti tenaga tubuh yang aus setiap hari. Kristus, roti hidup itu, mengganti manusia batin kita yang juga aus setiap hari. Tanpa asupan itu, iman mengering seperti tubuh yang lupa makan.
Maka ada tiga lapar yang sebenarnya kita bawa setiap pagi. Lapar perut, yang dijawab nasi. Lapar hati, yang sering keliru kita jejali dengan belanja dan hiburan. Dan lapar yang paling dalam, yang hanya bisa dikenyangkan oleh Dia yang berkata, 'Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.'
Yang menarik, orang banyak di Kapernaum bertanya, 'Apakah yang harus kami perbuat, supaya mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?' Mereka mengira harus melakukan sesuatu yang besar. Jawaban Yesus mengejutkan, 'Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.' Roti yang benar tidak dibeli dengan prestasi. Ia diterima dengan kepercayaan, seperti manna dipungut dengan tangan yang terbuka, bukan direbut dengan tenaga sendiri.
Pagi ini, sebelum kita sibuk mengejar yang bisa binasa, sudahkah kita memungut roti yang tidak binasa itu?
Tuhan Yesus, Engkau roti hidup. Ajari aku lapar yang benar, dan cukupkan aku hari demi hari, tanpa perlu menimbun. Amin.