Rabu, 31 Juli 2030
Menjual Segalanya dengan Gembira
Kemarin kita belajar menunggu musim menuai. Hari ini Yesus bercerita tentang orang yang justru tidak bisa menunggu: begitu menemukan harta terpendam di ladang, oleh sukacitanya ia pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Perhatikan kata kuncinya: oleh sukacitanya. Ia melepas semuanya bukan dengan berat hati, melainkan dengan gembira. Orang yang sudah melihat hartanya tidak merasa kehilangan apa-apa.
Santo Ignasius dari Loyola mengalaminya secara harfiah. Prajurit muda yang haus kehormatan itu terbaring dengan kaki hancur terkena peluru meriam. Di ranjang sakit, karena bosan, ia membaca satu-satunya bacaan yang tersedia: riwayat Kristus dan para kudus. Di situlah ia menemukan harta terpendamnya. Ia kemudian menggantungkan pedangnya di altar dan menjual seluruh cita-cita lamanya.
Yeremia merasakan hal yang sama: "Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, aku menikmatinya; firman-Mu menjadi kegirangan bagiku." Nama Ignasius kebetulan dekat dengan kata Latin ignis, api. Firman yang sungguh dinikmati memang menyalakan.
Apa harta kita, yang membuat segala kehilangan terasa ringan?
Tuhan, nyalakanlah dalam diriku api sukacita karena menemukan Engkau, harta yang melebihi segalanya. Amin.