Selasa, 23 Juli 2030
Periuk Tanah
Di dapur nenek biasanya ada satu periuk tanah liat yang sudah tua. Warnanya kusam, ada retak halus di pinggirnya. Tetapi anehnya, masakan dari periuk itu paling sedap. Justru wadah yang paling sederhana menyimpan rasa yang tidak bisa ditiru panci mengkilap.
Paulus hari ini memakai gambar serupa: harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Lalu ia merentang daftar yang indah: ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian.
Santo Yakobus, yang kita peringati hari ini, mengalami semuanya. Ia menjadi rasul pertama yang mati dibunuh pedang karena imannya. Bejana tanahnya pecah, tetapi hartanya tidak hilang; justru tertumpah menjadi berkat bagi Gereja sampai sekarang.
Kita sering malu dengan retak-retak kita: keterbatasan, umur, masa lalu. Padahal Allah sengaja menaruh harta-Nya di wadah seperti itu, supaya jelas kilau itu milik siapa.
Jangan menunggu menjadi panci mengkilap untuk melayani. Periuk tanah pun dipakai-Nya.
Tuhan, aku bejana tanah liat-Mu. Isilah aku dengan harta-Mu, dan pakailah aku apa adanya. Amin.