Senin, 22 Juli 2030
Dipanggil Nama
Di tengah pasar yang riuh, seorang anak bisa mengenali satu suara: cara ibunya memanggil namanya. Nada itu tidak bisa ditiru orang lain. Nama yang sama, diucapkan seribu orang, hanya terdengar hidup dari satu mulut.
Maria Magdalena berdiri di depan kubur kosong dengan mata penuh air. Ia melihat malaikat, tidak terhibur. Ia melihat Yesus sendiri, dan menyangka-Nya penunggu taman. Mata dan telinganya dikepung dukacita.
Lalu satu kata menembus semuanya: "Maria!" Bukan khotbah, bukan penjelasan tentang kebangkitan. Hanya namanya. Dan seketika ia berpaling: "Rabuni!"
Kidung Agung melukiskan pencarian jantung hati yang tak kunjung ketemu. Ternyata akhir pencarian itu bukan kita yang berhasil menemukan Dia, melainkan Dia yang menyebut nama kita. Tuhan tidak memanggil kita dengan nomor antrean atau dengan daftar dosa. Ia memanggil nama.
Sesudah itu Maria diutus: pergilah kepada saudara-saudara-Ku. Perempuan yang pernah remuk itu menjadi pewarta pertama kebangkitan, rasul bagi para rasul.
Dalam keriuhan hari ini, maukah kita hening sebentar? Siapa tahu nama kita sedang disebut.
Yesus, sebutlah namaku seperti Engkau menyebut Maria, dan utuslah aku membagikan sukacita-Mu. Amin.