‹ Semua renungan

Minggu, 21 Juli 2030

Istirahat yang Direbut

Ada penyakit zaman ini yang jarang diakui: bangga karena sibuk. Ditanya kabar, jawabnya "sibuk sekali", diucapkan dengan nada mengeluh tetapi wajah sedikit bangga. Jadwal penuh dianggap bukti harga diri. Sampai-sampai makan tergesa, tidur berkurang.

Ternyata itu bukan penyakit baru. Markus mencatat keadaan para rasul yang baru pulang dari perutusan: begitu banyak orang datang dan pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Minggu lalu kita mendengar mereka diutus berdua-dua tanpa bekal. Sekarang mereka kembali dengan segudang cerita, dan Yesus menyambut bukan dengan evaluasi, melainkan dengan undangan: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!"

Istirahat, dalam mulut Yesus, bukan kemalasan. Ia bagian dari perutusan itu sendiri. Busur yang terus ditegangkan akan patah. Murid yang tidak pernah berhenti akan memberitakan Allah dengan hati yang kosong.

Tetapi rencana istirahat itu gagal. Orang banyak berlari lewat darat dan tiba lebih dulu. Bagaimana reaksi Yesus? Ia tidak mengeluh. Ketika mendarat dan melihat kerumunan itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu Ia mengajar. Istirahat-Nya direbut, dan Ia merelakannya demi kawanan yang terlantar.

Di sinilah bacaan pertama menemukan tempatnya. Lewat Yeremia, Allah mengecam para gembala yang membiarkan domba-domba-Nya hilang dan terserak, lalu berjanji: Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku. Janji itu berdiri di depan mata orang banyak hari itu, dalam diri Yesus, Tunas adil bagi Daud.

Surat Efesus, yang minggu lalu memuji rencana Allah sejak sebelum dunia dijadikan, kini menunjuk buahnya: Dialah damai sejahtera kita, yang merubuhkan tembok pemisah. Gembala sejati bukan hanya mengumpulkan domba; Ia mendamaikan domba-domba yang saling bermusuhan.

Maka istirahat kristiani punya wajah ganda. Pertama, berani berhenti: menyingkir ke tempat sunyi bersama Yesus, sebab kita bukan mesin. Kedua, rela terganggu: sebab belas kasihan kadang datang justru ketika kita ingin sendirian. Keduanya sama-sama membutuhkan hati yang bersandar pada Gembala, bukan pada jadwal.

Pekan ini, ambillah waktu sunyi itu. Bukan sekadar libur, melainkan duduk dekat Dia. Dan bila ada yang merebut waktu istirahat kita dengan kebutuhannya, semoga yang keluar dari hati kita bukan gerutu, melainkan belas kasihan.

Tuhan Yesus, Gembala yang baik, ajarilah aku berhenti di dekat-Mu, dan ajarilah aku rela diganggu seperti Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →