Jumat, 19 Juli 2030
Menghadap Dinding
Kemarin Yesus mengundang semua yang letih lesu datang kepada-Nya. Hari ini kita bertemu orang yang bebannya paling berat: vonis kematian.
Raja Hizkia jatuh sakit, dan nabi Yesaya datang bukan membawa penghiburan: "Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati." Apa yang dilakukan Hizkia? Ia memalingkan mukanya ke arah dinding, berdoa, dan menangis dengan sangat.
Menghadap dinding. Tidak ada pemandangan di sana, tidak ada penonton. Hanya dia dan Allahnya. Doa yang paling jujur memang sering lahir di posisi itu: ketika semua jalan tertutup dan yang tersisa hanya tembok.
Lalu jawaban itu datang: "Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu." Lima belas tahun ditambahkan pada hidupnya. Allah ternyata bukan hanya mendengar kata-kata; Ia melihat air mata. Tangisan yang tidak sanggup menjadi kalimat pun terbaca oleh-Nya.
Ini bukan jaminan bahwa setiap sakit pasti sembuh. Ini jaminan bahwa tidak ada air mata yang jatuh tanpa disaksikan.
Sedang berhadapan dengan tembok? Menghadaplah ke sana, dan menangislah di situ bersama Tuhan.
Tuhan, Engkau melihat air mataku. Aku percaya, tidak ada tangisku yang sia-sia di hadapan-Mu. Amin.