Rabu, 17 Juli 2030
Kapak dan Tangan
Tidak ada cangkul yang pulang dari sawah lalu menepuk dada. Tidak ada gergaji yang merasa lebih hebat dari tukang kayunya. Perkakas yang baik justru diam: dipakai, diasah, disimpan.
Yesaya hari ini menertawakan Asyur, negara adikuasa yang menyangka kejayaannya hasil tangannya sendiri. "Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya?" Asyur hanya alat di tangan Allah, tetapi ia mengaku sebagai tuan. Kesombongan selalu dimulai dari lupa: lupa bahwa kita dipegang.
Kemarin Yesus mengecam kota-kota yang pandai tetapi tidak bertobat. Hari ini Ia bersyukur dengan sukacita: semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Kepada wong cilik, kata orang Jawa. Mereka yang tidak punya apa-apa untuk disombongkan justru paling siap menerima.
Ini bukan pujian atas kebodohan. Ini pujian atas kerendahan hati. Orang pintar yang sadar dirinya alat tetap bisa menjadi kecil di hadapan Allah.
Hari ini, prestasi mana yang diam-diam membuat kita merasa jadi tuan, padahal kita kapak di tangan-Nya?
Bapa, Tuhan langit dan bumi, jadikanlah aku alat yang tajam dengan hati yang kecil. Amin.