‹ Semua renungan

Rabu, 3 Juli 2030

Batu Penjuru

Tukang bangunan di kampung punya kebiasaan yang sama di mana-mana. Sebelum menaikkan tembok, ia memasang satu batu di sudut, lalu menarik benang dari sana. Batu sudut itu menentukan lurus tidaknya seluruh bangunan. Salah meletakkannya, miring semuanya.

Surat Efesus memakai gambar itu: kita dibangun di atas dasar para rasul, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Yang mengejutkan, salah satu batu dasar itu bernama Tomas. Si peragu. Orang yang pernah bersumpah tidak akan percaya sebelum mencucukkan jari ke bekas paku.

Bagaimana bisa Gereja berdiri di atas orang yang pernah ragu? Justru itu kabar baiknya. Allah tidak menunggu batu yang sempurna. Ia memakai batu yang pernah retak, asal mau diletakkan pada Kristus dan mengikuti benang-Nya. Keraguan Tomas malah melahirkan pengakuan iman terpendek dan terpadat: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Efesus juga berkata: kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga. Dalam bangunan Allah tidak ada batu tamu. Semua batu adalah penghuni.

Keraguan kita, kegagalan kita, masa lalu kita: semuanya bisa tersusun rapi asal batu penjurunya benar.

Tuhan Yesus, Engkaulah batu penjuruku. Susunlah hidupku yang retak ini menjadi kediaman-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →