Rabu, 19 Juni 2030
Dua Bagian Roh
Perpisahan itu sudah dekat. Elia tahu ia akan segera diangkat. Ia bertanya kepada Elisa, muridnya, 'Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu.' Elisa tidak meminta harta atau kedudukan. Ia meminta hal yang lebih dalam: 'Biarlah aku mendapat dua bagian dari rohmu.'
Dua bagian roh. Ini bahasa warisan. Dalam hukum Israel, anak sulung menerima dua bagian dari warisan ayahnya. Elisa memohon untuk mewarisi bukan barang guru, melainkan semangatnya, panggilannya, kedekatannya dengan Tuhan.
Lalu datang kereta berapi, dan Elia terangkat dalam angin badai. Jubahnya jatuh. Elisa memungutnya, memukulkannya ke air Yordan, dan air itu terbelah. Roh itu sungguh berpindah.
Ada sesuatu yang indah tentang warisan semacam ini. Ada hal-hal yang tidak mati bersama orang yang meninggalkannya. Iman seorang ibu, ketekunan seorang guru, kelembutan seorang bapa, semua itu bisa berpindah kepada yang datang kemudian, kalau ada yang bersedia memungut jubahnya.
Kita sering sibuk memikirkan warisan berupa tanah dan uang. Tetapi warisan yang paling menentukan justru yang tak bisa disimpan di bank. Bagaimana kita berdoa, memaafkan, dan bertahan. Anak-anak diam-diam memungut jubah kita, entah yang baik entah yang buruk.
Dalam Injil, Yesus mengingatkan agar kebaikan dilakukan dengan tersembunyi, bukan untuk dilihat orang. Warisan roh yang sejati tumbuh diam-diam, bukan dari sorotan panggung.
Hari ini, jubah macam apa yang sedang kita tinggalkan untuk dipungut oleh mereka yang datang sesudah kita?
Tuhan, jadikan hidupku warisan yang layak dipungut. Biarlah yang datang sesudahku mewarisi bukan hartaku, melainkan imanku kepada-Mu. Amin.