Kamis, 20 Juni 2030
Doa yang Tidak Bertele-tele
Ada anggapan lama bahwa doa yang panjang lebih manjur. Semakin banyak kata, semakin besar peluang didengar. Seolah Tuhan bisa dibujuk oleh jumlah.
Yesus menolak anggapan itu dengan tenang. 'Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka karena banyaknya kata doanya akan dikabulkan.' Lalu Ia menambahkan alasan yang melegakan: 'Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.'
Kalau begitu, untuk apa berdoa? Bukan untuk memberi tahu Tuhan yang belum Ia ketahui. Melainkan untuk menata hati kita sendiri, supaya selaras dengan kehendak-Nya.
Maka Yesus mengajarkan doa yang pendek, yang sampai hari ini kita ucapkan, Bapa Kami. Perhatikan urutannya. Yang pertama disebut bukan kebutuhan kita, melainkan nama Bapa, kerajaan-Nya, kehendak-Nya. Baru sesudah itu roti secukupnya dan pengampunan.
Doa yang benar tidak dimulai dari daftar keinginan kita, melainkan dari siapa yang kita sapa.
Kemarin kita mendengar tentang Elia lewat kitab Sirakh, nabi yang perkataannya laksana obor. Doanya di Karmel juga singkat, hanya beberapa kalimat, dan api pun turun. Bukan panjang doanya yang menggerakkan langit, melainkan hati yang bersandar penuh.
Kita kadang merasa doa kita kurang bermutu karena terlalu pendek, terlalu sederhana. Padahal Tuhan tidak menimbang kata, Ia menimbang hati.
Hari ini, apakah doa kita lebih banyak berisi daftar permintaan, atau kerinduan untuk mengenal kehendak-Nya?
Bapa, ajarilah kami berdoa seperti anak kepada bapa, bukan seperti orang asing yang harus membujuk. Sebelum kami meminta, Engkau sudah tahu. Jadikan doa kami tempat hati kami berserah. Amin.