‹ Semua renungan

Minggu, 9 Juni 2030

Bahasa Ibu

Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani, pentekoste, yang berarti kelima puluh. Hari kelima puluh setelah Paskah. Sebuah angka yang menandai kepenuhan, seperti panen setelah masa menunggu.

Dan panen itu datang dengan cara yang tak terduga. Angin, lidah api, lalu para murid mulai berbicara. Orang banyak dari berbagai negeri berkerumun, dan terjadilah keajaiban yang mudah terlewat: mereka masing-masing mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Orang Partia mendengar bahasa Partia, orang Mesir mendengar bahasa Mesir.

Perhatikan, Roh Kudus tidak memaksa semua orang memakai satu bahasa seragam. Ia justru membuat Injil terdengar dalam bahasa ibu masing-masing. Bahasa yang kita pakai waktu kecil, bahasa yang dipakai ibu menimang kita, bahasa yang paling dalam menyentuh hati.

Ada sesuatu yang lembut di situ. Allah tidak berbicara kepada kita dalam bahasa asing yang harus kita pelajari dulu. Ia turun ke bahasa kita.

Ada yang melihat Pentakosta sebagai kebalikan menara Babel. Di Babel, kesombongan manusia mengacaukan bahasa dan mencerai-beraikan mereka. Di Pentakosta, Roh Kudus memakai perbedaan bahasa justru untuk mengumpulkan. Yang dulu memisahkan kini menyatukan.

Paulus menjelaskan logikanya dalam bacaan kedua. 'Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.' Seperti tubuh, banyak anggota tetapi satu badan. Tangan bukan mata, kaki bukan telinga. Kalau semua jadi mata, dengan apa tubuh mendengar? Kesatuan Gereja bukan keseragaman. Roh yang sama justru menyalakan warna yang berbeda-beda.

Kita kadang keliru mengira, bersatu berarti semua harus sama. Sama pendapat, sama selera, sama cara berdoa. Padahal Pentakosta mengajarkan hal sebaliknya. Roh yang satu sanggup menyatukan yang beragam, tanpa melebur perbedaannya.

Bayangkan sebuah paduan suara. Kalau semua menyanyi nada yang persis sama, itu bukan harmoni, itu hanya suara keras. Harmoni lahir justru karena ada suara tinggi dan rendah yang mau saling mendengar.

Di rumah, di paroki, di tempat kerja, kita berhadapan dengan orang yang berbeda watak dan cara. Godaannya adalah menganggap yang berbeda itu salah. Pentakosta menawarkan cara pandang lain: barangkali ia anggota tubuh yang lain, yang justru kita butuhkan.

Hari ini, adakah perbedaan di sekitar kita yang selama ini kita anggap gangguan, padahal itu karunia Roh yang belum kita syukuri?

Roh Kudus, Engkau berbicara kepada tiap orang dalam bahasa hatinya sendiri. Ajarilah kami mendengar satu sama lain, dan menjadi satu tubuh tanpa kehilangan warna kami. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →