Minggu, 2 Juni 2030
Undian dan Kasih
Ada satu adegan ganjil di awal Kisah Para Rasul. Sebelas rasul kekurangan satu orang. Tempat Yudas kosong. Bagaimana mengisinya? Mereka mengusulkan dua nama, lalu membuang undi. Seperti orang mengocok arisan.
Aneh, bukan? Jabatan sepenting rasul ditentukan lewat undian.
Tetapi perhatikan yang mendahului undian itu. Mereka berdoa lebih dulu: 'Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang.' Undian bukan judi di tangan mereka. Undian adalah cara mereka berkata, biarlah Engkau yang memilih, bukan selera kami. Yang tampak seperti kebetulan sebenarnya penyerahan.
Minggu lalu kita mendengar Yohanes menulis kalimat yang membalik arah: bukan kita yang lebih dulu mengasihi Allah, melainkan Allah yang lebih dulu mengasihi kita. Hari ini ia melanjutkan. Kalau Allah sedemikian mengasihi kita, haruslah kita juga saling mengasihi.
Perhatikan urutannya. Kasih selalu turun lebih dulu, baru mengalir mendatar. Kita bisa mengasihi sesama karena sudah lebih dulu dikasihi. Seperti kincir yang hanya berputar kalau ada air yang jatuh dari atas.
Dalam Injil, Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya menjelang perpisahan. Ia tidak meminta agar mereka diangkat dari dunia. Ia meminta agar mereka dijaga di dalam dunia, dan menjadi satu. Satu, seperti Bapa dan Anak satu.
Matias terpilih bukan karena ia paling hebat, tetapi karena ada tempat kosong yang perlu diisi demi kesatuan. Persekutuan yang berlubang ingin kembali utuh.
Yohanes menaruh kalimat yang mengejutkan dalam bacaan kedua. 'Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.' Betapa berani. Allah yang tak kelihatan itu justru menjadi kelihatan ketika kita saling mengasihi. Kasih antar sesama adalah jendela tempat orang mengintip Allah. Kalau kita ingin menunjukkan Allah kepada dunia, bukan penjelasan yang paling dibutuhkan, melainkan kasih yang nyata.
Barangkali di sekitar kita juga ada tempat kosong. Seseorang yang undur diri, sebuah relasi yang retak. Kita menunggu orang lain memulai. Padahal kasih tidak menunggu. Ia yang lebih dulu. Mengasihi lebih dulu memang berisiko ditolak, tetapi justru begitulah cara Allah sendiri mengasihi kita, jauh sebelum kita membalas.
Hari ini, adakah satu nama yang Tuhan letakkan di hati kita untuk kembali kita rangkul?
Tuhan, Engkau lebih dulu mengasihi kami saat kami belum tahu apa-apa. Ajarilah kami meneruskan kasih itu, bukan menimbunnya. Jadikan kami satu, seperti Engkau satu. Amin.