Sabtu, 1 Juni 2030
Guru yang Mau Diajari
Apolos orang pandai. Fasih bicara, mahir Kitab Suci, bersemangat pula. Di rumah ibadat ia mengajar dengan berani. Orang seperti ini biasanya sudah merasa cukup. Untuk apa lagi belajar kalau sudah bisa memukau pendengar?
Tetapi ada yang kurang. Priskila dan Akwila, sepasang suami istri tukang tenda, mendengar ada yang belum lengkap. Mereka tidak mempermalukan Apolos di depan umum. Mereka membawanya ke rumah, menjelaskan dengan teliti. Dan Apolos, si fasih itu, mau duduk mendengarkan.
Di sinilah letak kebesarannya. Bukan pada kefasihannya, melainkan pada kesediaannya diajari orang yang barangkali kalah pandai.
Hari ini Gereja mengenang Yustinus, seorang filsuf yang berkeliling mencari kebenaran dari satu mazhab ke mazhab lain, sampai ia menemukannya pada Kristus. Ia tak pernah berhenti menjadi murid, bahkan ketika sudah menjadi guru. Ia menuliskan imannya, membelanya, lalu mati karenanya.
Kita sering keliru mengira, semakin tahu semakin tak perlu bertanya. Padahal air yang berhenti mengalir cepat berbau. Orang yang menutup diri dari koreksi perlahan mengeras.
Adakah seseorang yang lewat hidup kita hari ini, yang sebenarnya diutus untuk melengkapi kita, tetapi kita tolak karena gengsi?
Tuhan, jauhkan aku dari rasa sudah cukup tahu. Berilah aku hati Apolos, yang besar justru karena mau kecil di depan kebenaran. Amin.