Kamis, 30 Mei 2030
Naik untuk Mendekat
Di terminal dan bandara, air mata paling banyak jatuh bukan karena benci, melainkan karena sayang. Kita melepas anak merantau sambil tahu: kalau ia tidak berangkat, ia tidak akan bertumbuh. Ada perpisahan yang memiskinkan, ada perpisahan yang justru memperkaya.
Hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan. Dalam Injil, Yesus menyiapkan para murid dengan kalimat yang terdengar seperti teka-teki: 'Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi, dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.' Mereka kebingungan dan saling bertanya. Kita pun mungkin ikut bertanya: untuk apa Ia pergi, kalau kehadiran-Nya justru yang paling kami butuhkan?
Kenaikan memang sering kita bayangkan sebagai kepergian. Padahal arah sesungguhnya adalah pelepasan batas. Selama berjalan di Galilea, Yesus hanya dapat dijumpai di satu tempat pada satu waktu; orang Kapernaum harus menunggu Ia selesai melayani di tempat lain. Dengan naik kepada Bapa dan mencurahkan Roh-Nya, Ia tidak meninggalkan bumi. Ia justru hadir bagi semua tempat sekaligus: di gereja katedral yang megah dan di kapel stasi paling ujung, pada saat yang sama. Ia naik bukan untuk menjauh, melainkan untuk mendekat kepada semua orang.
Minggu lalu kita mendengar Yesus berbicara tentang sukacita-Nya yang penuh. Hari ini Ia jujur tentang jalan menuju ke sana: 'Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.' Perhatikan kata berubah. Dukacita tidak ditukar dengan hiburan lain; dukacita itu sendiri yang diolah menjadi sukacita, seperti tangis di terminal yang bertahun-tahun kemudian menjadi rasa bangga.
Bacaan pertama memperlihatkan wajah bumi sesudah Kenaikan. Paulus tiba di Korintus, menumpang di rumah Akwila dan Priskila, dan bekerja bersama mereka sebagai tukang kemah. Tuhan yang duduk di sebelah kanan Allah ternyata terus bekerja lewat jarum, benang, dan rumah yang terbuka bagi orang asing. Kenaikan tidak membuat surga sibuk sendiri. Ia menjadikan seluruh bumi bengkel kerja Allah, dan kita para pekerjanya.
Maka pesta hari ini bukan pesta perpisahan, melainkan pesta pengutusan. Ia tidak lagi kelihatan, supaya kita yang kelihatan. Lewat tangan yang menjahit, mengajar, memasak, dan menyapa, orang di sekitar kita seharusnya bisa berkata: Ia masih di sini.
Tuhan yang naik ke surga, Engkau tidak pergi dari kami. Jadikanlah tanganku tanda kehadiran-Mu yang tak kelihatan, sampai dukacita kami Kauubah menjadi sukacita. Amin.