‹ Semua renungan

Jumat, 24 Mei 2030

Surat yang Menghiburkan

Ada surat yang ditunggu dengan jantung berdebar: hasil pemeriksaan, surat keputusan, panggilan kerja. Isinya hanya beberapa baris, tetapi menentukan nyenyak tidaknya tidur semalam.

Jemaat Antiokhia menunggu surat semacam itu dari Yerusalem. Sidang yang kita ikuti sejak kemarin akhirnya menghasilkan sepucuk surat: diterimakah mereka apa adanya, atau harus memikul syarat-syarat yang berat? Surat itu tiba, dibacakan, dan Lukas menutup dengan hangat: jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan.

Kalimat kunci surat itu berani sekali: 'adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu.' Gereja perdana belajar membedakan yang pokok dari yang tambahan, lalu memilih meringankan.

Injil menyempurnakan kabar gembira itu: 'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu sahabat.' Allah yang kita layani bukan mandor pemberi beban, melainkan Sahabat yang membuka isi hati-Nya, bahkan memberikan nyawa-Nya.

Kita pun setiap hari mengirim surat dalam berbagai bentuk: ucapan, pesan singkat, keputusan rapat, komentar di meja makan. Apakah orang bersukacita membacanya, atau justru bertambah berat langkahnya?

Tuhan, jadikanlah kata-kataku hari ini sepucuk surat yang menghiburkan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →