Kamis, 16 Mei 2030
Kurir Bukan Pengirim
Kurir yang baik tahu batasnya: paket itu bukan miliknya. Tugasnya mengantar utuh, bukan membuka isinya, apalagi mengaku-aku sebagai pengirim.
Kemarin Barnabas dan Saulus dilepas jemaat Antiokhia. Hari ini kita mengikuti khotbah pertama Paulus di rumah ibadat Antiokhia Pisidia. Ia menutur ulang sejarah panjang Israel, lalu mengutip teladan Yohanes Pembaptis. Di puncak ketenarannya, Yohanes berkata: 'Aku bukanlah Dia yang kamu sangka. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.' Kurir besar itu menolak dikira pengirim.
Yesus dalam Injil menegaskan hukum yang sama: 'Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.' Lalu ada janji yang manis: barangsiapa menerima orang yang diutus-Nya, ia menerima Yesus sendiri, dan menerima Bapa yang mengutus-Nya.
Kita semua kurir. Lewat pekerjaan, pengajaran, dan teladan di rumah, kita mengantar kabar baik. Godaannya klasik: ingin dipuji seolah-olah kitalah sumber kebaikan itu. Padahal kemuliaan seorang kurir hanya satu: paket sampai, utuh, tepat alamat.
Hari ini, kabar baik siapa yang harus kuantar tanpa kuakui sebagai milikku?
Tuhan, jadikan aku utusan yang setia mengantar, bukan yang mencuri nama Pengirim. Amin.