Minggu, 12 Mei 2030
Mata Pemilik
Anak-anak kampung dulu mengenal pekerjaan angon, menggembalakan ternak selepas sekolah. Ada yang menggembalakan kambing milik keluarga sendiri, ada yang mengurus ternak titipan orang. Dari jauh keduanya tampak sama. Bedanya baru kelihatan saat hujan deras turun atau anjing liar mendekat: yang satu pulang menyelamatkan diri, yang satu menghitung dulu kambingnya sampai lengkap.
Yesus memakai perbedaan itu dalam Injil hari ini: 'Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.' Lawan dari gembala baik ternyata bukan gembala jahat, melainkan orang upahan. Upahan tidak kejam; ia hanya bekerja sesuai bayaran. Ketika serigala datang, ia lari, dan itu masuk akal: untuk apa mati demi domba orang lain? Justru di situ garis pemisahnya. Domba-domba itu bukan miliknya, maka hatinya tidak pernah tertinggal di padang.
Yesus menyebutkan alasan-Nya bertahan: 'Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.' Kenal, bukan sekadar tahu jumlah. Ia bahkan menyamakan kadar pengenalan itu dengan relasi-Nya sendiri dengan Bapa. Kita bukan angka dalam catatan kawanan. Kita dikenal satu per satu, dengan nama, dengan sejarah luka masing-masing.
Minggu lalu Yohanes menulis bahwa tanda mengenal Allah ialah menuruti perintah-Nya. Hari ini ia melangkah lebih jauh: kita disebut anak-anak Allah, 'dan memang kita adalah anak-anak Allah'. Ia buru-buru menegaskan, seolah takut kita mengira itu bahasa manis belaka. Gembala ini mati bagi kawanannya karena kawanan itu keluarganya sendiri.
Dan kematian-Nya bukan kecelakaan tugas. 'Tidak seorang pun mengambil nyawa-Ku daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.' Ini kasih yang memilih, bukan nasib yang menimpa.
Hari Minggu Gembala Baik adalah hari doa panggilan. Kita berdoa bagi para gembala Gereja: semoga mereka diberi mata pemilik, bukan mata upahan. Tetapi doa itu memantul kembali kepada kita. Setiap kita dititipi kawanan kecil: anak di rumah, murid di kelas, umat di lingkungan, orang-orang di tempat kerja. Ujian seorang gembala selalu sama. Bukan saat padang tenang, melainkan saat serigala datang; saat repot, rugi, dan bahaya tiba. Saat itu kita bertahan, atau pelan-pelan menghilang?
Yesus, Gembala Baik, Engkau mengenal namaku. Berilah aku mata pemilik bagi mereka yang Kautitipkan kepadaku, dan panggillah gembala-gembala baru bagi Gereja-Mu. Amin.