‹ Semua renungan

Sabtu, 11 Mei 2030

Jahitan Tabita

Di rumah duka, orang tidak berpidato tentang teori. Orang menunjukkan barang. Ini kursi buatannya. Ini kue resepnya. Ini baju jahitannya.

Ketika Tabita meninggal, janda-janda di Yope mengelilingi Petrus sambil menangis. Mereka tidak membacakan riwayat hidupnya. Mereka menunjukkan semua baju dan pakaian yang dibuat Tabita waktu ia masih hidup. Itulah pidato perkabungan paling jujur: kesaksian yang bisa dipegang tangan.

Sementara itu dalam Injil, perkataan tentang roti hidup yang kita dengar sejak kemarin ternyata terasa keras, dan banyak murid mengundurkan diri. Petrus bertahan dengan jawaban yang terdengar seperti orang kehabisan pilihan: 'Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.' Bertahan pada Yesus memang tidak selalu gagah. Kadang bentuknya hanya setia berjalan terus.

Tabita mungkin tidak pernah berkhotbah sekali pun. Ia menjahit. Dan jahitannya membuat para janda hangat, lalu membuat satu kota percaya ketika Allah membangkitkannya lewat doa Petrus.

Kalau kita dipanggil pulang hari ini, barang apa yang akan ditunjukkan orang sambil menangis?

Tuhan, biarlah imanku meninggalkan jahitan yang menghangatkan orang lain. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →