Kamis, 9 Mei 2030
Duduk di Samping
Orang bisa membeli buku paling bagus dan tetap tidak mengerti isinya. Membaca ternyata satu hal; memahami hal lain lagi.
Pembesar Etiopia itu orang penting, kepala perbendaharaan sang ratu. Ia pulang dari beribadah di Yerusalem sambil membaca kitab Yesaya di keretanya. Ketika Filipus bertanya apakah ia mengerti, jawabannya jujur sekali: 'Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?' Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.
Dua kerendahan hati bertemu di kereta itu. Pejabat tinggi yang berani mengaku tidak paham, dan Filipus yang mau diutus ke jalan sunyi tanpa tahu untuk apa. Kemarin ia membawa sukacita bagi satu kota di Samaria; hari ini ia disuruh meninggalkan keramaian itu demi satu orang di jalan menuju Gaza. Hasilnya: satu baptisan di pinggir jalan, dan sukacita yang dibawa pulang sampai ke Etiopia.
Iman memang tidak dirancang untuk dipahami sendirian. Kita perlu orang yang duduk di samping: orang tua, katekis, sahabat, pembimbing rohani. Dan sesekali kitalah yang harus berlari mendekati kereta orang lain.
Siapa yang dulu duduk di sampingku? Dan di samping siapa aku diminta duduk hari ini?
Tuhan, utuslah aku ke jalan yang sunyi, dan berilah aku hati yang mau dibimbing. Amin.