‹ Semua renungan

Minggu, 5 Mei 2030

Sepotong Ikan Goreng

Dari semua cara membuktikan diri hidup, Yesus memilih yang paling sederhana: minta makan. 'Adakah padamu makanan di sini?' Para murid memberikan sepotong ikan goreng, dan Ia memakannya di depan mata mereka.

Mengapa bukan pertunjukan cahaya dari langit? Karena masalah para murid malam itu bukan kurang tontonan, melainkan salah sangka: mereka mengira melihat hantu. Dan hantu, kata Yesus, tidak punya daging dan tulang. Hantu tidak ikut makan malam. Maka Ia menunjukkan tangan dan kaki-Nya, lalu mengunyah ikan di hadapan mereka. Kebangkitan bukan kenangan indah yang terus hidup di hati para pengikut-Nya. Kebangkitan itu tubuh yang nyata, yang bisa diraba, yang ikut duduk di meja makan.

Ini kabar baik yang sering kita lewatkan. Kita kadang membayangkan iman sebagai urusan melayang: makin rohani, makin jauh dari perkara badan. Padahal Paskah bergerak ke arah sebaliknya. Allah yang bangkit justru mendatangi hal-hal paling jasmani: luka di tangan, lapar di perut, ikan di piring. Tidak ada meja makan yang terlalu sederhana untuk kehadiran-Nya, dan tidak ada urusan badan yang terlalu remeh untuk dibawa dalam doa.

Bacaan kedua memberi ukuran yang sama membumi. Tanda bahwa kita mengenal Allah, tulis Yohanes, bukanlah getaran perasaan, melainkan ini: menuruti perintah-perintah-Nya. Kasih Allah menjadi sempurna dalam orang yang melakukan firman-Nya. Lagi-lagi bukan awang-awang, melainkan perbuatan yang kelihatan dan bisa dirasakan orang lain.

Lalu Yesus menutup pertemuan itu dengan pengangkatan: 'Kamu adalah saksi dari semuanya ini.' Saksi bukan penonton. Penonton pulang lalu lupa; saksi menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya. Petrus melakukannya dalam bacaan pertama. Ia berani menyebut dosa para pendengarnya, tetapi segera membuka pintu: kamu berbuat demikian karena ketidaktahuan, karena itu sadarlah dan bertobatlah. Kesaksian yang benar selalu berujung pada tawaran pengampunan, bukan pada penghakiman.

Pertanyaan untuk pekan ini sederhana: adakah orang yang bisa meraba kebangkitan lewat hidup kita? Lewat meja makan yang terbuka, luka yang tidak disembunyikan, pengampunan yang ditawarkan lebih dulu. Kristus yang hidup tidak membutuhkan pembela; Ia membutuhkan saksi.

Tuhan yang bangkit, hadirlah di meja makanku, dan jadikan hidupku sepotong bukti bahwa Engkau sungguh hidup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →