Selasa, 30 April 2030
Anak Penghiburan
Kemarin kita mendengar Yesus berbicara tentang angin Roh yang bertiup ke mana ia mau. Hari ini kita melihat apa jadinya ketika angin itu benar-benar meniup sekelompok orang. Ia mengubah cara mereka memandang milik.
Lukas melukiskan jemaat perdana dengan kalimat yang hampir sulit dipercaya. 'Mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri.' Bukan karena mereka dipaksa, melainkan karena hati mereka sudah lebih dulu diubah. Ketika seseorang lahir dari Roh, genggamannya pada harta ikut mengendur.
Lalu muncul satu nama sebagai contoh. Yusuf, seorang Lewi dari Siprus, yang oleh para rasul diberi nama baru, Barnabas, artinya anak penghiburan. Ia menjual ladangnya dan meletakkan uangnya di depan kaki para rasul. Menarik bahwa ia dikenang justru karena kemurahannya. Sebab memberi memang salah satu cara paling nyata menghibur orang lain.
Kita hidup di zaman yang mengajarkan sebaliknya, bahwa milik adalah milik, titik. Tetapi angin Roh mengembuskan logika yang lain, bahwa yang kita punya sebenarnya titipan, dan kebahagiaan justru datang ketika tangan berani terbuka.
Kemarin Roh diibaratkan angin yang tak kelihatan. Hari ini kita melihat bekas tiupannya, yaitu tangan yang terbuka dan hati yang tak lagi menghitung. Itulah bukti paling jujur bahwa seseorang sungguh dilahirkan kembali.
Adakah satu genggaman kita yang perlu sedikit dikendurkan hari ini, agar menjadi penghiburan bagi orang lain?
Tuhan, kendurkan genggamanku pada milikku, dan jadikan aku, seperti Barnabas, seorang anak penghiburan bagi sesama. Amin.