Jumat, 12 April 2030
Iman yang Bekerja dalam Diam
Ada orang-orang yang seluruh peranannya justru terletak pada kesediaan mundur ke belakang layar. Yusuf salah satunya. Dalam seluruh Injil, ia tidak pernah mengucapkan satu patah kata pun yang tercatat. Ia hanya bertindak. Ia bermimpi, lalu bangun, lalu melakukan.
Bacaan hari ini memperlihatkan pergolakannya. Maria mengandung, dan Yusuf tahu anak itu bukan darahnya. Sebagai orang yang tulus hati, ia berniat menceraikan Maria diam-diam, supaya tidak mempermalukannya. Sudah di sini kita melihat hatinya. Bahkan ketika terluka, ia memilih cara yang paling melindungi orang lain.
Lalu datang mimpi. Malaikat berkata, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu. Dan Injil mencatat dengan singkat, 'Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan.' Tidak ada perdebatan, tidak ada tuntutan penjelasan. Ia hanya taat.
Yusuf mengajarkan sesuatu yang langka di zaman yang gemar bersuara, bahwa iman kadang bukan tentang berkata banyak, melainkan tentang bangun dan mengerjakan. Ia menjadi ayah bukan lewat darah, melainkan lewat kesetiaan. Ia memberi nama pada Yesus, ia melindungi keluarga itu, ia bekerja diam-diam sebagai tukang kayu. Nubuat lama kepada Daud tentang keturunan yang takhtanya kokoh selama-lamanya mengalir melewati tangan seorang tukang kayu yang sederhana dan taat.
Di dunia yang menuntut kita selalu tampil dan bersuara, beranikah kita sesekali melayani dalam diam, seperti Yusuf?
Tuhan, ajarilah aku iman yang bekerja tanpa banyak bicara, setia di belakang layar seperti Santo Yusuf. Amin.