Rabu, 10 April 2030
Seandainya Tidak
Ada satu kalimat kecil dalam jawaban tiga pemuda itu yang mengubah segalanya. Mereka berkata kepada raja, Allah kami sanggup melepaskan kami. Lalu mereka menambahkan, 'tetapi seandainya tidak,' kami tetap tidak akan menyembah patungmu.
Dua kata itu, seandainya tidak, adalah puncak iman yang jarang. Banyak orang percaya kepada Tuhan selama Tuhan menuruti permintaan. Beri aku sembuh, beri aku selamat, maka aku percaya. Iman semacam itu sebenarnya sebuah tawar-menawar. Tetapi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego percaya bahkan seandainya Tuhan tidak menyelamatkan mereka dari perapian. Mereka tetap menolak berlutut.
Di sinilah letak kemerdekaan sejati. Orang yang imannya tidak bergantung pada hasil tidak bisa diperbudak oleh ancaman apa pun. Raja punya perapian, tetapi tidak punya kuasa atas hati mereka. Api bisa membakar tubuh, tetapi tidak bisa memaksa mereka menyembah.
Hari ini Yesus melanjutkan, 'Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.' Orang-orang tersinggung, sebab merasa tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Padahal setiap orang yang tunduk pada rasa takut sudah menjadi hamba, meski tanpa rantai. Tiga pemuda itu berdiri tegak di depan perapian karena mereka sudah lebih dulu merdeka di dalam. Kata orang Jawa, wani ngalah luhur wekasane, berani mengalah pada akhirnya justru diluhurkan. Mereka mengalah pada dunia demi setia kepada Tuhan, dan justru di tengah api mereka berdiri bebas.
Ancaman apa yang selama ini diam-diam memperbudak pilihan-pilihan kita?
Tuhan, merdekakan aku dari rasa takut, agar aku hanya berlutut kepada-Mu. Amin.