‹ Semua renungan

Selasa, 9 April 2030

Berani Memandang Luka

Ada logika yang terbalik dalam kisah padang gurun ini. Umat digigit ular berbisa. Lalu obatnya apa? Bukan menghindari ular, bukan membakar semuanya. Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya di sebuah tiang. Siapa yang terpagut cukup memandangnya, dan ia tetap hidup.

Aneh, bukan? Yang menyembuhkan justru gambar dari yang melukai. Umat harus berani menatap wujud racun itu, tidak lari darinya, untuk sembuh. Seolah Tuhan berkata, jangan pura-pura tidak ada luka. Pandanglah, akuilah, dan dari situ datang kesembuhan.

Kemarin kita melihat Yesus tidak melempar batu kepada perempuan yang berdosa. Hari ini Ia berbicara tentang diri-Nya yang akan ditinggikan. 'Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia.' Kata ditinggikan itu berwajah dua. Ia berarti diangkat ke salib, dan sekaligus dimuliakan.

Salib adalah tiang yang sejati. Di sana tergantung wujud dari segala yang melukai kita, yaitu dosa, kekejaman, maut. Kita diminta memandangnya, bukan memalingkan muka. Sebab justru dengan memandang Dia yang tergantung, kita disembuhkan. Kita cenderung menutupi luka, berlagak baik-baik saja. Tetapi iman dimulai dari keberanian mengangkat mata ke salib dan mengakui, ya, aku terpagut, dan aku butuh disembuhkan.

Ke arah mana mata hati kita memandang hari ini, ketika bisa mulai menjalar?

Tuhan yang ditinggikan di kayu salib, tarik pandanganku kepada-Mu ketika luka mulai bekerja. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →