Senin, 8 April 2030
Mulai dari yang Tertua
Ada satu detail kecil yang mudah terlewat dalam kisah ini. Ketika orang-orang mengurungkan niat melempar batu, mereka pergi satu per satu, dan Yohanes mencatat, 'mulai dari yang tertua.' Yang paling tua meletakkan batunya lebih dulu.
Mengapa? Barangkali karena semakin panjang usia seseorang, semakin panjang pula daftar hal yang ia sesali. Orang muda masih mudah merasa bersih. Orang tua sudah terlalu sering jatuh untuk berani merasa layak menghukum. Umur, kalau dijalani dengan jujur, mengajar kerendahan hati.
Yesus tidak berpidato tentang belas kasih. Ia hanya membungkuk dan menulis di tanah. Inilah satu-satunya tempat Injil mencatat Yesus menulis, dan anehnya kita tidak tahu apa yang ditulis-Nya. Mungkin memang tidak penting isinya. Yang penting sikap-Nya. Ia menunduk, tidak ikut menatap perempuan itu dengan mata menghakimi.
Lalu satu kalimat, 'Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.' Batu di tangan mereka tiba-tiba terasa berat. Sebab batu paling mudah dilempar oleh orang yang lupa cermin. Akhirnya tinggal dua orang, dan Yesus tidak berkata dosa itu tidak apa-apa. Ia berkata, 'Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.' Pengampunan-Nya bukan pura-pura buta, melainkan pintu untuk mulai dari awal.
Batu siapa yang masih kita genggam hari ini, siap dilemparkan kepada seseorang?
Tuhan, lepaskanlah batu dari tanganku, dan ingatkan aku pada cermin sebelum pada orang lain. Amin.